Awas, Pengendara Motor di Bawah Umur Rentan Kecelakaan

Senin, 6 Februari 2012 — 14:10 WIB
pengendara-motor-cilik

BERHATI-HATILAH bagi para orang tua dalam memberikan ijin atau memperbolehkan anaknya yang masih di bawah umur terlebih belum memiliki kualifikasi berkendara untuk mengendarakan kendaraan bermotor di jalan raya. Sebab, resikonya lebih besar dari pada manfaatnya.

Seperti dilaporkan Hurt Report, sebuah penelitian Department of Transportation di Amerika yang dikerjakan proffesor Harry Hurt dari University of Southern California Traffic Safety Center, menyebutkan bahwa usia muda rentan ke¬celakaan. Pengendara motor pada usia 16 hingga 24 tahun lebih dominan menjadi korban kecelakaan atau pelaku laka lantas.

Selain itu, dalam peraturan lalu lintas di Indonesia yang tertuang dalam Undang Undang Lalu Lintas No 22 Tahun 2009 Pasal 77 ayat 1 menyebutkan setiap orang yang me¬ngemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib memiliki SIM sesuai dengan jenis ken-da¬raan bermotor yang dike¬mu¬dikan. Padahal, sesuai de¬ngan Pasal 81 ayat 1 dan 2, un¬¬tuk mendapatkan SIM, seti¬ap orang harus memenuhi per¬syaratan usia, administratif, kesehatan dan lulus ujian. Dari sisi usia, untuk SIM A, C, dan D, minimal pemilik SIM harus berusia 17 tahun. Sedangkan B1 minimal 20 tahun dan B2 minimal 21 tahun.

Dijelaskan Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Drs. Dwi Sigit Nurmantyas, SH, M.Hum, anak di bawah umur kurang mampu dalam mengontrol emosi. Tanggung ja¬wab dan pemahaman akan pentingnya keselamatan juga masih kurang. Itu mengapa surat ijin mengemudi (SIM) baru dapat diperoleh setelah berusia 17 tahun ke atas.

”Anak di bawah umur bia¬sa¬nya masih Kurang mampu mengontrol emosi, kematang¬an berfikir kurang, kesadaran akan tanggung jawab rendah, dan ditambah lagi kurangnya pemahaman akan penting¬nya keselamatan,” ujar Kombes Dwi Sigit.

Dalam mengatasi perso¬alan ini, Dit Lantas PMJ pun telah mengupayakan berba¬gai pencegahan. Sosialisasi ke sekolah-sekolah rutin digelar. Bahkan, pengetahuan tentang lalu lintas juga telah dimasukan ke dalam kurikulum sekolah. Selain itu, pe¬nindakan juga dilakukan de¬ng¬an melakukan razia bagi pe¬ngemudi di bawah umur atau tidak memiliki SIM.

Akan tetapi, berbagai upaya ini tidak akan maksimal jika tidak didukung oleh ke¬pe¬du-lian orang tua. Masih banyak orang tua yang mengabaikan keselamatan anak mereka yang masih di bawah umur de¬ngan mudahnya dalam memberikan ijin mengendarai kendaraan bermotor.

Oleh karena itu, Dir Lantas PMJ mengimbau agar para orang tua untuk lebih selektif dalam memberikan ijin ber¬kendara kepada anaknya, terutama bagi mereka yang ma¬sih di bawah umur. ”Bagi para orang tua agar dipertimbangkan kembali dalam memberikan ijin atau memperbolehkan anaknya yang masih di ba¬wah umur atau belum memiliki kualifikasi mengemudi, berkendara di jalan raya. Se¬bab, le¬bih besar resikonya da¬ri pada manfaatnya,” terang Kombes Dwi Sigit.  (Danar/Rian/TMC)

  • Fauzia A

    KELALAIAN pengemudi mengantuk yang mengejar setoran tanpa memperdulikan kondisi kemampuannya membawa nyawa penumpang. bahkan nyawa pengguna jalan lain pun jadi korban tak berdosa.
    mudah-mudahan korban tewas maupun korban luka mendapat santunan yang pantas. oleh karena itu amat sangat penting bagi siapa saja pengguna jalan harus memikirkan untuk mulai membuat jaminan kecelakaan diri agar bisa berjaga-jaga dari 1001 kemungkinan yang tidak kita inginkan. masyarakat berpenghasilan 25.000/hari pun sekarang sudah bisa mendapat manfaat dari jaminan yang hanya dibayarkan 200 – 300 ribu rupiah pertahun dari sekian manfaat yang bisa didapatkan dari program TMC. bahkan bagi mereka yang hanya lulusan SD pun bisa memiliki masa depan yang jauh lebih sejahtera lewat program GRATIS ini. lebih jelas silahkan bergabung di fauziaazhari@gmail.com. terimakasih semoga bermanfaat.