Kian Banyak Aparat Terjerat Narkoba

Rabu, 30 Mei 2012
iluskian

JAKARTA (Pos Kota) – Narkoba adalah barang haram. Aturan hukumnya sudah jelas. Berat hukuman bagi pelanggar, ternyata justru menjadi sisi manis bagi oknum instansi terkait. Barang laknat itu bagai kue dan menjadi rebutan aparat hukum yang berkhianat pada tugasnya.

Hal itu ditegaskan Ketua Gerakan Anti Narkotika (Granat), Henry Yosodiningrat, Selasa (29/5) petang. Henry menilai, tekad pemerintah bebas narkoba pada 2015 sulit terlaksana. “Mimpi!,” ujarnya.

Menurutnya, penyalahgunaan narkotika di Indonesia makin menyeramkan. Hampir semua lini kehidupan masyarakat terlibat, termasuk aparat penegak hukum, mulai dari oknum petugas kepolisian, tentara, pengadilan hingga sipir penjara.

“Ini bukti Indonesia masuk dalam tahap darurat narkoba,” ujarnya,

“Sindikasi peredarannya sudah masuk ke berbagai sel termasuk kalangan penegak hukum yang seharusnya memberantas jual beli hingga penggunaan narkoba.”

Ia juga menilai langkah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberi grasi 5 tahun pada Schapelle Leigh Corby tak tepat. Wanita Australia itu ditangkap di Bandara Ngurah Rai, Bali, karena membawa 4,2 kg ganja dan dijatuhi vonis 20 tahun penjara dan denda Rp 100 juta.

Dua pekan setelah turunnya hak prerogatif Presiden SBY itu, ibu rumah tangga asal Inggris, Lindsay June Sandiford, ditangkap di Bali karena membawa 4,7 kg kokain hingga ia terancam hukuman mati.

SBY DIGUGAT

Niat aktivis Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) menggugat grasi Presiden SBY kian bulat. Mereka menunjuk mantan Menteri Kehakiman dan HAM Yusril Ihza Mahendra untuk menggugat Keputusan Presiden untuk grasi tersebut.

“Melalui Ketua Granat Henry Yosodiningrat, semalam sepakat menunjuk saya untuk menjadi Koordinator Tim Kuasa Hukum Granat dalam menggugat Presiden yang menerbitkan Keppres Grasi Corby ke PTUN Jakarta,” kata Yusril.

Tim yang dipimpinnya beranggotakan Maqdir Ismail, Luhut MP Pangaribuan dan SF Marbun. Rapat di kantor Granat, di kompleks Hotel Kartika Chandra itu dihadiri antara lain oleh Adnan Buyung Nasution, Fahmi Idris, Komjen Pol (Purn) Togar Sianipar, Komjen Pol (Purn) Ahwil Lutan, dan pengamat hukum internasional Hikamahanto Juwana.

TENTARA TERLIBAT

Beberapa oknum aparat hukum terjebak dalam peredaran narkoba. Kasus teranyar penyeludupan 1,5 juta ekstasi dari China senilai Rp500 miliar yang diungkap Badan Narkotika Nasional (BNN). Penyeludupan barang haram ini melibatkan tersangka berinisial S, oknum TNI AU berpangkat Bripda. S mengatasnamakan koperasi milik Badan Intelijen dan Strategi (Bais ) demi meloloskan ekstasi tersebut. Pil setan diangkut dengan kapal layar menuju Pelabuhan Tanjung Priok.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Marsekal Muda Iskandar Sitompul, di Kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, menyebutkan pada 2011, ada 165 tentara dipecat karena narkoba. Angka ini meningkat dibanding setahun sebelumnya yang mencapai 150 tentara. “Jika terbukti oknum S bersalah, pasti kena sanksi. Bahkan dipecat,” ujarnya.

Senin (28/5) malam, petugas BNN menggeledah kantor penerima kiriman 1,5 juta ekstasi di Muara Karang, Jakarta Utara. Dari rung kerja bos narkoba, petugas menyita berbagai dokumen yang berkaitan dengan pengiriman pil gedek.

Sedangkan di Kuta Cane, Aceh Tenggara, mobil Toyota Fortuner, berplat TNI jatuh ke jurang, setelah dikejar polisi. Mobil itu terbakar. Dari dalam mobil, petugas menemukan 467 kilo ganja. Pengendara mobil melarikan diri ke hutan, Selasa (29/5) siang. Polisi menduga, plat nomor mobil itu dipalsukan bandar narkoba.

POLISI

Sebagai aparat yang berhubungan langsung dengan masalah narkoba, tak sedikit oknum polisi yang bermain api. Kapolsek Cibarusah, AKP HB, ditangkap di rumah dinasnya karena nyabu pada 9 Maret. Wakil Direktur Direktorat Narkoba Polda Sumatera Utara, AKBP ABR juga ditangkap di tempat hiburan malam di Medan karena narkoba. Ia memesan ekstasi pada karyawan tempat hiburan untuk sejumlah temannya.

Catatan di Mabes Polri, hingga Maret tahun ini, 45 polisi terjerat narkoba. Pada 2011, jumlah oknum polisi yang terlibat kasus narkotika sebanyak 227 orang, terdiri dari 14 perwira menengah (pamen), 18 perwira pertama (pama), 192 bintara dan tiga PNS polri.

Nakroba juga menjerat petugas kejaksaan. Kasus dua wanita jaksa yang menggelapkan 300 ekstasi barang bukti. Setelah melalui serangkaian proses hukum di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, jaksa Esther Tanak yang dituntut 1 tahun 6 bulan penjara akhirnya divonis 1 tahun penjara. Rekannya, jaksa Dara Veranita divonis bebas karena dianggap tak terbukti menjualbelikan barang bukti ekstasi. Ketua majelis hakim Eko Supriyono menyebutkan jaksa Esther mengorbankan kariernya hanya demi BlackBerry senilai Rp7 Juta. Dalam kasus ini, Irfan, petugas Polsek Pademangan, divonis 1 tahun 6 bulan penjara.

Lain lagi dengan oknum di lembaga pemasyarakatan. Dalam sejumlah kasus terungkap, oknum sipir main mata dengan tahanan kasus narkoba hingga memungkinan tahanan itu mengendalikan bisnisnya dari balik tembok penjara.

BNN menemukan indikasi kebocoran informasi sipir LP Pekanbaru saat petugas bersama Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana melalukan sidak awal April. Sebelum pintu dibuka, sipir memberitahu ada yang datang untuk sidak pada narapidana. Dalam penggerebekan, tiga bandar dan seorang sipir yang diduga membantu peredaran narkoba di penjara ditangkap.

BERSINGGUNGAN

Dalam pandangan pakar kriminologi Universitas Indonesia, Kisnu Widagso, aparat keamanan sangat mudah jatuh dalam sindikat peredaran narkoba. Soalnya, dalam tugas sehari-hari mereka kerap bersinggungan dengan masalah itu. “Tanpa iman dan moral yang kuat, mereka akan tergelincir. Itu makanya dibutuhkan pimpinan yang bisa dijadikan teladan,” ujarnya.

Lingkungan yang konsumtif, sambunganya, akan menggiring oknum petugas untuk masuk dalam dunia yang seharusnya diperangi. Narkoba dengan daya jual yang tinggi ditambah harga mahal menjadi daya pikat petugas yang ingin cepat kaya. (adin/ilham/winoto/b)

Terbaru
Terpopuler
Liga Champions
Morata Incar Tiga Angka
Jum'at, 21 Maret 2014
Bola
Sental-Sentil
Ahok: Jadi Tersangka Dicopot
Jum'at, 21 Maret 2014
Korupsi
Dirampas Kedaulatan Parpol
Jum'at, 21 Maret 2014
Sental-Sentil
Kanit Reskrim Tewas Dikeroyok
Jum'at, 21 Maret 2014
Kriminal
Mal Sapi, SPG Cantik Turun Tangan
Jum'at, 21 Maret 2014
Poskota TV
Kriminal
Pemkot Jakbar Razia 44 PMKS
Jum'at, 21 Maret 2014
Megapolitan

Tentang Kami

Poskota

Poskota, Poskotanews, Poskota Online adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT. Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.