Kelompok Yang Tidak Toleran Terhadap Keberagaman Meningkat

Minggu, 21 Oktober 2012 — 17:51 WIB
Survei LSI-22110

JAKARTA (Pos Kota) – Kelompok yang tidak toleran terhadap keberagaman semakin banyak. Rilis terbaru dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) memperlihatkan, 15-80 persen masyarakat Indonesia merasa tak nyaman jika hidup berdampingan atau bertetangga dengan orang yang berbeda identitas.

“Setiap tahun, tingkat kekerasan akibat keberagaman juga meningkat. Jika terus begini dan tanpa penyikapan tegas dari pemerintah, bukan tak mungkin toleransi hanya akan ada di dalam kamus,” kata peneliti LSI Community, Ardian Sopa saat mengumumkan hasil survei bertema ‘Meningkatnya Populasi yang Tidak Nyaman dengan Keberagaman’ di Jakarta, Minggu (21/10).

Survei dilakukan oleh Yayasan Denny JA dan LSI Community (organ anyar LSI), di 33 provinsi di Indonesia, menggunakan metode sistem pengacakan bertingkat (multistage random sampling). Jumlah responden sebanyak 1.200 dan margin error sebesar 2,9 persen. Survei dilakukan pada 1-8 Oktober 2012.

Adrian mengatakan, dalam survei tersebut mereka yang bersikap intoleran dan punya kecenderungan anarkis, mayoritas berasal dari publik yang berpendidikan dan berpenghasilan rendah.

Dia menyebut dalam survei ini mereka yang berpendidikan rendah (SMA ke bawah), sebesar 67,8 persen yang merasa tidak nyaman bertetangga dengan orang berbeda agama. Kemudian 61,2 persen dengan orang Syiah, 63,1 persen dengan Ahmadiyah dan 65,1 persen dengan kaum homoseksual.

“Sedangkan mereka yang berpendidikan tinggi (SMA ke atas), sebesar 32,2 persen merasa tidak nyaman bertetangga dengan orang beda agama, sebesar 38,8 persen dengan orang Syiah, sebesar 36,9 persen dengan orang Ahmadiyah, dan sebesar 34,9 persen dengan orang homoseks,” tuturnya.

Mereka yang berpenghasilan rendah (di bawah Rp 2 juta), lanjut Adrian, sebesar 57,8 persen yang merasa tidak nyaman bertetangga dengan orang Syiah, 61,2 persen dengan orang Ahmadiyah, 59,1 persen dengan orang homoseks. Sedangkan mereka yang berpenghasilan tinggi (di atas Rp 2 juta), sebesar 42,2 persen yang merasa tidak nyaman bertetangga dengan orang Syiah, 38,8 persen dengan orang Ahmadiyah, dan 40,9 persen dengan orang homoseks.

“Berdasarkan survei, sikap intoleransi terhadap keberadaan orang lain yang berbeda identitas sosialnya meningkat. Toleransi publik terhadap penggunaan kekerasan juga membengkak,” ungkap Ardian. (aby)

Teks :Peneliti LSI Community Adrian Sopa (tengah). (rihadin)