Tidak Ada Perda, Minimarket Menjamur

Jumat, 22 Maret 2013 — 13:57 WIB
minimarket

SURABAYA (Pos Kota)-Berdasarkan pengamatan DPRD Surabaya, pertambahan jumlah minimarket di Surabaya bak jamur di musim hujan. Ironisnya, minimarket yang bermunculan tersebut makin liar, selain banyak yang tidak mengantongi izin lengkap, –terbukti dari sekitar 1.035 minimarket, hanya 30 yang memiliki IMB– pendiriannya mengabaikan pertimbangan lokasi, entah di dekat pasar tradisional, atau dekat dengan minimarket lain yang sudah ada.

Menurut dewan, hal itu terjadi karena Pemerintah Kota (Pemkot) belum memiliki Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur minimarket. Dan kondisi ini dimanfaatkan dengan sebaik mungkin oleh pengusaha. Karena meskipun nanti sudah ada Perda baru, sangat kecil kemungkinannya Pemkot membongkar paksa minimarket yang sudah dibangun meskipun melanggar aturan, khususnya terkait lokasi.

Dalam tempo 1 hingga 2 tahun terakhir jumlahnya sudah berlipat-lipat dan tanpa mempedulikan jarak antar minimarket dan kedetakannya dengan pasar tradisonal atau toko kelontong milik warga sekitarnya. Kondisi ini, tentu semakin membuat susah warga pemilik toko atau kios kelontong di perkampungan.
Pantauan di lapangan menyebutkan, banyak warga beralih belanja ke minimarket dengan alasan harga lebih murah. Keberadaan minimarket baru, yang rata-rata berlabel Alfamart serta Indomart semakin menyebar ke mana-mana. Di Jl Pandugo ada gerai Alfamart yang baru buka. Tak jauh dari gerai tersebut, tepatnya sekitar 200 meter sisi timur sebelumnya sudah berdiri dua gerai berlabel Alfamart serta Indomart.

Kemudian di sisi timur Jl Pandugo, tepatnya juga baru dibuka gerai Indomart. Lokasinya persis di timur Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Sementara di seberang titik minimarket baru tersebut sebelumnya terdapat Alfamart dan Indomart.
Selain itu, di ruas Jl. Ir H Soekarno atau MERR IIC yang masuk wilayah RW-9 Wisma Kedung Asem Indah, muncul Indomart. Kemudian di MERR ruas Semolowaru sisi timur, sudah ada satu gerai Alfarmart. Tak jauh dari keberadaannya terdapat Indomart. Selanjutnya di wilayah Kendalsari, tak jauh dari kebun bibit Wonorejo, juga terdapat satu gerai Alfamart baru.
Sementara di sisi Jl. A Yani antara Jemursari-Bundaran Waru juga ada Alfamart dan Indomart yang didirikan berdekatan. Demikian, pula di Frontage Road sisi timur Jl. A Yani juga sudah ada minimarket serupa.

Ketua Komisi B DPRD Surabaya, Moch Machmud Jumat(22/3) mengatakan, kekosongan Perda tentang penataan minimarket benar-benar dimanfaatkan pengusaha. “Benar jika jumlah gerai di kampung-kampung terus bertambah jumlahnya. Terlepas itu sudah ada izinnya, masih diurus atau bahkan belum, yang pasti sudah buka,” katanya.

Ironisnya, DPRD dan Pemkot Surabaya kini masih berkutat mencari aturan baru untuk mengatur hal tersebut. Konsentrasi DPRD dan Pemkot masih hanya menuntaskan draf Raperda penataan minimarket, sebagai pengganti Perda 1/2011 tentang Izin Usaha Toko Modern  (IUTM).

Sementara itu, Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Pemkot Surabaya, Agus Imam Son Haji mengatakan, selama setahun terkahir saat dia menjabat di dinasnya itu brua 30 pemilik minimarket yang mengajukan IMB. Kalau melihat itu, maka bisa dipastikan di Surabaya banyak minimarket yang tidak memiliki IMB. Padahal IMB ini sebagai dasar dibuatnya Perda IUTM.
Kondisi ini tidak dipungkuri Kepala Satpol PP Pemkot Irvan Widyanto. Satpol PP Pemkot sampai sekarang pihaknya sudah menutup sekitar 20 minimarket. Alasan Satpol PP, masih harus melakukan pendataan ulang.

(nurqomar/sir)