Mengaku Nikah Siri Tapi Tak Ada Suratnya

Selasa, 11 Juni 2013
nah-sub

NURDIN, 47, memang tipe lelaki gerak cepat. Sebelum proses perceraian dengan istri gol, dia menjalin asmara dulu dengan janda lain, Fatonah, 42. Tapi saat digerebek warga di ruko kontrakan, enak saja mengaku bahwa sudah nikah siri, padahal tanpa bukti surat pendukung.

Memangnya nikah siri itu ada dokumen surat menyuratnya? Oo ada, wong ini bukan transaksi jual beli kambing. Cuma bedanya, bila nikah resmi pakai buku coklat keluaran Kementerian Agama, nikah siri hanya selembar kertas folio dilengkapi meterai Rp 6.000,- dan ditanda tangani pula oleh para saksi. Namun demikian dalam Islam itu sudah dinyatakan sah, dan ibarat makanan sudah halalan tayiban untuk dinikmati sampai glegeken (sendawa).

Dengan dalih sudah nikah siri pula Nurdin, dengan pedenya secara priodik mengunjungi janda Fatonah yang sehari-hari menjadi guru SD honorer. Lalu semalaman dia tidur di situ, di ruko kontrakan yang dibayari oleh Nurdin sendiri. Lama-lama warga pun curiga, kalau suami istri benerana, kenapa kehadiran lelaki itu hanya insidentil? Ibarat mobil datang sekedar “tune up” dan sporing balansing, habis itu pergi kembali.

Nurdin memang tidak tinggal menetap di ruko tersebut. Rumah permanennya ada di kampung lain, cuma dengan istrinya sedang pisah ranjang karena tengah memproses perceraiannya di Pengadilan Agama Aceh Tengah. Sebagai lelaki yang gerak cepat, dia segera mencari “ban cadangan” bila ban utama itu benar-benar hilang.

Kebetulan lelaki pegawai Kemenag di Kabupaten Bener Mariah itu berkenalan dengan Fatonah, guru SD yang berstatus masih honorer. Meski usia sudah 42 tahun, nampaknya masih STNK juga, sehingga Nurdin sangat tertarik untuk menjadikannya randa kempling ini sebagai ban serep. Yang penting sama-sama ukuran R-14, sehingga tinggal pakai tanpa perlu penyesuaian lagi.

Ternyata Fatonah juga sangat aspiratip pada kehendak Nurdin, terbukti ketika disuruh tinggal di ruko kontrakan milik kekasihnya. Sejak dia tinggal di situ, secara priodik Nurdin mengunjungi dan nginep segala. Tapi warga Desa Umah Opat, Kampung Mongal Kecamatan Bebebesen Aceh Tengah (Ateng), menjadi resah gara-gara ulah mencurigakan dua makhluk berlainan jenis itu. Mereka juga tersinggung jika kampungnya dianggap jadi komplek bordil.

Setelah dimusyawarohkan bersama kepala lingkungan, penggerebekan segera dilakukan. Fatonah berusaha kabur lewat pintu belakang, tapi rumah sudah dikepung warga, sehingga bersama Nurdin tak berkutik saat dibawa ke tetua kampung untuk diselesaikan secara adat. Dalam pemeriksaan Nurdin mengaku bahwa Fatonah sudah dinikah secara siri, tapi sayangnya ketika diminta menunjukkan bukti surat pendukungnya, tidak punya.

Dia pikir, kawin siri ini yang penting urat bukan surat. (JPNN/Gunarso TS)

Tentang Kami

Poskota

Poskota, Poskotanews, Poskota Online adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT. Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.