Terkait Kasus GT 2.1 dan 2.2

Dirut PLN Segera Diperiksa Kejagung

Sabtu, 22 Februari 2014 — 16:38 WIB
nur

JAKARTA (Pos Kota) – Direktur Utama  PLN Nur Pamudji segera diperiksa usai tim penyidik LTE Major Overhouls Gas Turbine (GT) 2.1 dan 2. 2, Blok 2 PTGU, Belawan, setelah memeriksa para saksi di Medan, Sumut.  “Sekarang, tim penyidik masih menuntaskan pemeriksaan para saksi di Medan. Selesai dari situ, baru kita agendakan lagi,” kata Direktur Penyidikan pada Jampidsus Syafrudin kepada wartawan di Jakarta, kemarin.

Namun, dia belum dapat memastikan pemeriksaan terhadap Nur Pamudji, peraih Bung Hatta Award, sebagai tokoh yang bersih dari praktik tercela. “Tunggulah. Pada waktunya, pasti akan diperiksa.”

Nama Nur Pamudji sempat ramai diperbincangkan ketika dia memutuskan untuk mengundurkan diri usai diperiksa pertama kali oleh Kejaksaan Agung. Meski, dicabut lagi setelah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PLN meminta dia untuk tetap memimpin PLN.
Terakhir, namanya disebut-sebut dalam surat panggilan guna diperiksa oleh Kejagung, belum lama ini dalam kapasitas tersangka. Surat panggilan itu menyebar di kalangan aktifis penggiat anti korupsi.

Bahkan, Kejagung akan mempidanakannya, kalau mengetahui suratnya yang asli, karena merasa tandatangan dalam surat tersebut dipalsukan.
Di bagian lain, Syafrudin menyatakan proses penunjukan langsung oleh PLN dalam proyek GT. 2. 1 dan 2. 2  masih dalam tahap penyelidikan.

“Sebenarnya aturan itu (penunjukan langsung) direksi yang mengeluarkan. Tapi pelaksanaannya di masing-masing pembangkit PLN dan yang menentukan aturan penunjukan langsung itu ya direksi. Kita masih selidiki kasus ini jadi berikan kesempatan penyidik untuk bekerja, karena butuh proses,” pintanya.

Proyek   LTE GT 2.1 dan 2. 2, semula dikerjakan oleh  PT SIndonesia, setelah  ditunjuk langsung oleh PLN, tapi Siemens meminta tambahan biaya Rp200 miliar, selain harga kontrak yang telah disepakati Rp634 miliar.

PLN menolak, karena anggaran PLN untuk proyek itu sebesar Rp634 miliar. Siemens tak sanggup. PLN, lalu menender ulang dan munculnya pemenang PT Mapna Indonesia dan PT Nusantara Turbine Propulasi (anak usaha PT Dirgantara Indonsesia) sebagai konsorsium dengan nilai lebih rendah menjadi Rp400-an miliar lebih. Bahlan out put listrik yang dihasilan mencapai 145 MW dari target 132 MW. (ahi/yo)